Badan Intelijen Negara
<< Februari 2018 >>
MinSenSelRabKamJumSab
    123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728   
  • foto

    Indonesia Menjadi Tuan Rumah KTT IORA 2017

    Jakarta, (06/03/2017). Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Indian Ocean Rim Association (KTT IORA) yang digelar pada 5 hingga 7 Maret 2017 bertempat di Jakarta Convention Center (JCC).

Waspada Penyakit Difteri

Jakarta (13/12/2017)- Dipenghujung tahun 2017, publik dikejutkan kembali dengan maraknya penyakit Difteri yang menjakiti anak-anak dan juga orang dewasa, bahkan sempat memakan korban jiwa. Baru-baru ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menetapkan penyakit Difteri sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Penyakit Difteri merupakan penyakit yang sering menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriarea. Sebenarnya, penyakit Difteri tidak terlalu menakutkan seperti yang diberitakan dan diperbicangkan banyak orang, kalau saja mengetahui dengan tepat cara mendeteksi, mencegah dan mengobatinya.
Penetapan Difteri sebagai KLB, tidak tanpa alasan, release data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sampai dengan November 2017, ada 95 Kab/kota dari 20 provinsi melaporkan kasus Difteri. Sementara pada kurun waktu Oktober -- November 2017 ada 11 provinsi yang melaporkan terjadinya KLB Difteri di wilayah kabupaten/kota-nya, yaitu Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta,  Jawa Barat, dan Jawa Timur. 
Menurut Direktur Surveilans dan Karantina Kemenkes RI, Elizabeth Jane Soepardi, sampai saat ini jumlah kasus Difteri Januari-November 2017 dari 20 provinsi berjumlah 590 laporan kasus. Sepanjang Desember saja, enam orang telah meninggal akibat bakteri yang menyerang saluran pernapasan bagian atas. Jumlah kematian akibat difteri meningkat menjadi 38 dari 32 kasus selama Januari-November 2017.
Data tersebut mempunyai korelasi dengan Profil Kesehatan Indonesia, yang mencatat angka kasus Difteri terus mengalami kenaikan, tercatat pada tahun 2015, jumlah kasus Difteri berjumlah 252 kasus, dengan rincian korban meninggal sebanyak 5 kasus. Kasus tertinggi terjadi di Sumatera Barat sebanyak 110 kasus, dan Jawa Timur 67 kasus. Di tahun 2016, tercatat 415 kasus dengan jumlah kasus meninggal sebanyak 24 kasus, sehingga (CFR sebesar 5,8 persen). Kasus terbanyak terjadi di Jawa Timur dengan 209 kasus dan Jawa Barat sebanyak 133 kasus. Menurut data WHO tahun 2011, tercatat 3.353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak. Dari 3.353 orang yang menderita difteri, dan 110 di antaranya meninggal dunia. Hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap.
Kenaikan kasus Difteri tiap tahunnya diketahui dengan mengutip pernyataan Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, Oscar Primadi, bahwa munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri terkait dengan adanya immunity gap, artinya kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah. Kekosongan kekebalan terjadi akibat adanya akumulasi kelompok rentan terhadap Difteri, karena kelompok ini tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya. Akhir-akhir ini, di beberapa daerah di Indonesia, muncul penolakan terhadap imunisasi. Penolakan terhadap imunisasi merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya cakupan imunisasi. Cakupan imunisasi yang tinggi dan kualitas layanan imunisasi yang baik sangat menentukan keberhasilan pencegahan berbagai penyakit menular, termasuk Difteri.
Masyarakat perlu ditekankan kembali dalam menyikapi Difteri dengan cara mengenali terlebih dahulu. Cara pengenalan gejala penyakit Difteri harus cermat, dimulai  demam yang tidak begitu tinggi sekitar 38 C, muncul pseudomembran/selaput di tenggorokan  berwana putih keabu-abuan yang mudah berdarah, sakit pada waktu menelan, terkadang disertai pembesaran kelenjar getah bening leher dan pembengkakan jaringan lunak leher disebut bullneck. Bahkan, tidak jarang sering disertai sesak napas/suara mengorok. Gejala lainnya ditandai dengan kaku leher, mual, muntah, sakit kepala, batuk dan pilek ringan. Sementara itu, terkait dengan medium penularan penyakit Difteri dapat menularkan melalui percikan ludah ketika berbicara, bersin atau batuk.  Dampak yang ditimbulkan penyakit Difteri beragam mulai mengakibatkan masalah pernafasan, kerusakan jantung, saraf, ginjal dan bahkan kematian. 
Pencegahan dan penanganan Difteri, disarankan untuk melakukan imunisasi Difteri secara bertahap, mulai lahir sampai dengan usia 9 bulan, diperkuat kembali ketika masuk usia diatas 1 tahun, dan dilakukan pengulangan kembali ketika sudah masuk bangku SD. Masyarakat juga dihimbau untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti selalu mencuci tangan sebelum memegang makanan,  menggunakan masker apabila sedang batuk, dan segera berobat ke pelayanan kesehatan terdekat, jika terindikasi gejala penyakit Difteri. 
Perlu diingat, pengobatan Difteri tidak bisa dilakukan sendiri, maka segera dirujuk ke rumah sakit, jangan sampai terlambat, karena Difteri sangat menular, sehingga perlu diisolasi dan istirahat total sampai dinyatakan sembuh. Masyarakat juga diminta untuk bersikap terbuka demi peningkatan kualitas kesehatan melalui dukungan dan kerja sama dalam menyukseskan ORI (Outbreak Response Immunization) oleh Dinas Kesehatan setempat. (*)