Badan Intelijen Negara

Makna Berqurban Untuk Memperkuat NKRI

Jakarta (24/9/2015) – Makna berkurban bukan saja telah memberikan kontribusi sosial dari ibadah kurbannya, melainkan juga memberikan nuansa perbaikan etika dan moralnya. Indonesia merdeka tentu dengan pengorbanan jiawa dan darah para shuhada, karena itu, kita wajib menjaga keutuhan NKRI. Demikian khutbah Sekjen PB Al Jam'iyatul Washliyah, Drs. H. Masyhuril Khamis, SH, MM., dalam sholat Ied peringatan Idul Adha 1436 H,dihadiri Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Letjen TNI (Purnawirawan) Sutiyoso,didampingi Wakil Kepala BIN,Letjen TNI Torry Djohar Banguntoro, serta pejabat Eselon I dan II, pegawai BIN dan masyarakat sekitar, di Masjid Jami’ Baitul Akbar, Kesatrian Soekarno Hatta, Jakarta,Kamis, 24 September 2015.

Lebih lanjut, Ustadz Masyhuril menjelaskan bahwa memaknai Idul Adha, berarti ada dua peristiwa besar yang menjadi fokus pembicaraan yaitu haji dan qurban. Adha bermakna qurban atau udhuhiyah, sementara prosesi ibadah haji salah satu diantaranya membicarakan sejarah penyembelihan Ismail yang disimbolkan dengan melontar jamaarat di Mina. Selain itu, peristiwa Arafah sebagai puncaknya ibadah haji juga merupakan rangkaian erat dari Idul Adha itu sendiri.

Prinsip ajaran qurban itu mengandung tiga kontekstual yakni konteks ibadah (vertical), konteks mu'amalah (horisontal), dan konteks rehabilitasi moral (orthogonal) bagi pequrbannya. Dimensi-dimensi ini perlu diaktualisasi ketika qurban dilakukan agar di satu pihak ibadah tersebut tidak terkondisi dalam rutinitas ritual semata, dan ajang bagi-bagi daging di pihak lain.

“Mereka yang berqurban bukan saja telah memberikan kontribusi sosial dari ibadah qurbannya, melainkan juga ibadah tersebut telah memberi nuansa bagi perbaikan etika dan moralnya bagi kesempurnaan eksisnya sebagai perpanjangan tangan Tuhan di muka bumi ini, sebagai simbol akan keluasan jiwa, kematangan sifat ikhlas, dan manifestasi berbagi akan rezeki yang Allah titipkan sebagai amanah yang harus dipelihara dan disalurkan pada yang ditunjuk untuk itu,” tutur Ustadz Masyhuril.

Persaudaraan atau ukhhuwah Islamiyah merupakan sesuatu yang final, serta wajib hukumnya untuk menjaganya. Demikian pula ukhuwah Wathaniyah, menjaga persaudaraan sesama anak bangsa.

Ibadah sosial yang kita kerjakan seharusnya berimplikasi kepada peningkatan pembinaan iman dan ketaqwaan. Dengan iman yang benar, kita dapat memasuki kehidupan di masa pasca Ramadhan berdasarkan nilai-nilai kerohanian.

“Bukankah negara ini merdeka dengan pengorbanan jiwa dan darah para syuhada? Karenanya kita wajib menjaganya, memeliharanya dari para pengkhianat yang berkeinginan agar kita berpecah belah,” jelas Ustadz Rif’at.

Ustadz Masyhuril juga mengajak para jamaah untuk bertekad bulat menjaga keutuhan NKRI, yakni dengan meningkatkan SDM dan ilmu pengetahuan, menjaga semangat kesatuan dan kegotongroyongan, serta ikut menjaga kesejahteraan dan kemajuan ekonomi rakyat dengan selalu mengayomi mereka yang hidupnya kurang beruntung.

Sementara itu, selesai salat Idul Adha, Kepala BIN menyerahkan hewan qurban berupa seekor sapi kepada Ketua Masjid Jami’ Baitul Akbar, untuk selanjutnya dilakukan penyembelihan/pemotongan hewan qurban. (*)