Badan Intelijen Negara

Intelijen Prancis Indentifikasi Kelompok Radikal

Paris (5/2/2015)- Menteri Dalam Negeri Perancis, Bernard Cazeneuve, (Rabu, 4/2/2015), menyatakan bahwa seorang pria ditangkap setelah melakukan penyerangan dengan menggunakan pisau kepada dua tentara di jalan Nice, Perancis Selatan. Pria tersebut telah diidentifikasi oleh badan intelijen Perancis berhubungan dengan kegiatan kelompok radikal.  

Tersangka, bernama Moussa Coulibaly, 30, melakukan penyerangan terhadap tentara dan temannya yang sedang berpatroli di daerah pusat Komunitas Yahudi, (Selasa, 3/2/2015) malam. Akibat dari penyerangan tersebut, kedua tentara terluka.

Menteri Dalam Negeri Perancis, Bernard Cazeneuve, mengatakan bahwa Badan Intelijen Perancis telah melakukan deteksi terhadap tersangka yang disinyalir melakukan kegiatan radikal di kawasan Yvelines, Paris Barat. Mereka memberikan informasi kepada Direktorat Jenderal Keamanan Dalam Negeri  atau DGSI, intinya mengenai keberadaan tersangka yang berada di pesawat menuju Turki bulan lalu, dan segera otoritas Turki mengeluarkan peringatan tersebut. Otoritas Turki masih melakukan pencarian dan mengambil beberapa orang serta menahannya untuk dimintai keterangan terkait  profil tersangka.

Tersangka Moussa Coulibaly berasal dari Paris, telah dipenjara sekitar  tahun 2006 dan 2009 atas beberapa tuduhan seperti kekerasan, mengutil dan penyalahgunaan obat.  

Seorang pejabat di kementerian utama Turki mengatakan pada Selasa, Intelijen Perancis menyadari keberadaan Coulibaly dan telah memberitahu pejabat Turki ketika tersangka terbang ke Istambul Ataturk Airport dari Roma, Kamis. Coulibaly  dimasukkan dalam penerbangan kembali ke Roma pada hari yang sama. 

Para pejabat tidak dapat memastikan apakah Moussa Coulibaly berhubungan dengan Amedy Coulibaly, orang yang membunuh perwira polisi di pinggiran Paris Montrouge, kemudian berakhir terbunuhnya Amedy dan keempat sandera lainnya. Coulibaly adalah nama umum untuk keluarga keturunan Mali.
Philipe Pradal, Kepala Deputi Keamanan Nice, mengatakan tersangka melakukan penyerangan, tetapi dapat diantisipasi oleh tentara lainnya yang telah disiap menggunakan rompi antipeluru. (*/Disarikan dari berbagai sumber)