Badan Intelijen Negara
<< Maret 2019 >>
MinSenSelRabKamJumSab
     12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31      
  • foto

    Pentingnya Pengelolaan Perbatasan Negara

    Mewujudkan Nawacita ke-3 yaitu Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan, menjadi salah satu program prioritas pasangan Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK). Upaya perwujudan ini dilakukan sebagai bentuk perhatian terhadap masyarakat yang ada di pelosok daerah, khususnya wilayah perbatasan negara, dalam hal pemenuhan rasa aman dan sejahtera.

Dharma Wanita Persatuan BIN Peringati Hari Kartini

Kaum ibu sebagai manager rumah tangga, harus memberikan peranan penting untuk mengatur sumber daya energi. Salah satu caranya adalah mengikuti program energi yang dicanangkan oleh pemerintah. Pernyataan tersebut diungkapkan Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Badan Intelijen Negara (BIN), Triyana Ma’roef Sjamsoeddin, dalam sambuatan acara peringatan Hari Kartini yang dibacakan Wakil Ketua Dharma Wanita Persatuan BIN, Hj.Setiorini Beny Roelyawan, di Gedung Pertemuan BIN, Kompleks Kasatrian Soekarno-Hatta, Jakarta, Selasa, 16 April 2013.

 
Turut hadir dalam acara peringatan tersebut Ketua Dewan Penasehat Dharma Wanita Persatuan (DWP) BIN, Triwaty Marciano. Acara peringatan yang bertema “Peran Karitini Satu Abad” juga menghadirkan mantan peragawati Ayu Dyah Pasha sebagai narasumber. Selain itu, dalam acara tersebut juga disediakan tempat bermain anak dan bazar yang diperuntukkan bagi para istri anggota BIN.
 
“Wanita di jaman dahulu adalah sebagai pelindung dalam tempat tinggal mereka, di mana pada saat itu tugas pria adalah berburu untuk mencari makanan dan dibawa kerumahnya. Perbedaan tugas yang jelas itulah yang pada akhirnya membedakan wanita dan pria secara biologis. Namun, hal tersebut pada dasarnya bukanlah sebuah hambatan, ada cara untuk membuat hubungan antara wanita menjadi harmonis, salah satunya dengan membaca” tutur Ayu Dyah Pasha.
 
Menurut Ayu, terjadi perubahan peran perempuan di lima puluh tahun terakhir ini, di mana perempuan tidak hanya menjaga rumah, namun juga dapat membantu pria dalam mencari penghasilan lain, sehingga keluarga tidak hanya bergantung pada sosok pria dalam bertahan hidup.  
 
“Pada dasarnya, pergeseran peran perempuan ini sudah diramalkan oleh John Naisbitt, yang mengatakan ‘dekade mendatang adalah dekade perempuan.' Menurut sebuah penelitian, sekarang ini jumlah eksekutif perempuan naik 150% dibanding sebelumnya,” kata Ayu Dyah.
 
Lebih lanjut peragawati senior ini menjelaskan bahwa emansipasi wanita memang tidak dapat dilakukan, dikarenakan wanita memiliki kemampuan verbal yang baik dan pria memiliki kemampuan berfikir sistematis. Otak dan hormon yang berbeda inilah kemudian mempengaruhi cara berfikir dan melahirkan cara bertindak berbeda.
 
“Kemampuan perempuan melakukan multitugas tersebut, seharusnya dapat menjadikan perempuan sebagai centre gravity of power (titik pusat keseimbangan). Ini dikarenakan perempuan adalah sosok pertama yang dicontoh oleh anak-anaknya,” sambung Ayu Dyah.
 
Ayu menyebutkan, untuk mencapai kesejahteraan yang diperlukan adalah self control atau mengendalikan emosi dan keinginan. Benteng pertama diperlukan oleh anak adalah keluarga, oleh sebab itu sebaiknya keluarga dapat memberikan pendidikan dini kepada anak-anaknya.(*)