Badan Intelijen Negara
<< September 2017 >>
MinSenSelRabKamJumSab
     12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
  • foto

    Indonesia Menjadi Tuan Rumah KTT IORA 2017

    Jakarta, (06/03/2017). Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Indian Ocean Rim Association (KTT IORA) yang digelar pada 5 hingga 7 Maret 2017 bertempat di Jakarta Convention Center (JCC).

BIN Gelar Upacara Hari Kebangkitan Nasional

Jakarta (20/05/2016) – Badan Intelijen Negara (BIN) menyelenggarakan upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-108, dipimpin Wakil Kepala BIN, Letjen TNI (Purn) Torry Djohar Banguntoro, diikuti pejabat eselon I, II, III, IV, Pejabat Fungsional dan seluruh anggota BIN, di Lapangan Upacara BIN, Jakarta, Jumat, 20 Mei 2016.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2016 mengambil tema "Mengukir Makna Kebangkitan Nasional dengan Mewujudkan Indonesia yang Bekerja Nyata, Mandiri dan Berkarakter". Tema ini menunjukkan bahwa tantangan apapun yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, harus dijawab dengan memfokuskan diri pada kerja nyata secara mandiri dan berkarakter. Kerja nyata, kemandirian, dan karakter terpusat pada pemahaman bahwa saat ini Indonesia dihadapkan dalam kompetisi global. Persaingan bukan lagi muncul dari tetangga-tetangga di sekitar lingkungan Indonesia saja, sebaliknya justru inilah saat paling tepat bagi bangsa Indonesia untuk bahu-membahu bersama sesama anak bangsa untuk memenangkan persaingan-persaingan pada arus global, karena lawan tanding semakin hari semakin muncul dari seantero penjuru dunia. Sebagai satu kesatuan, mau tidak mau bangsa Indonesia harus bangkit untuk menjadi bangsa yang kompetitif dalam persaingan pada tingkat global tersebut. 

Wakil Kepala BIN, Letjen TNI (Purn) Torry Djohar Banguntoro, dalam membacakan sambutan Menteri Komunikasi dan Informatika mengatakan bahwa salah satu inspirasi yang bisa diserap dari berdirinya Boedi Oetomo sebagai sebuah organisasi modern pada tahun 1908 adalah munculnya sumber daya manusia Indonesia yang terdidik, memiliki jiwa nasionalisme kebangsaan, dan memiliki cita-cita mulia untuk melepaskan diri dari penjajahan. Tampilnya sumber daya manusia yang unggul inilah semangat kebangkitan nasional dimulai. Perjuangan Boedi Oetomo yang dipimpin oleh Dokter Wahidin Soedirohoesodo dan Dokter Soetomo tersebut kemudian dilanjutkan oleh kaum muda pada tahun 1928 yang kemudian melahirkan Soempah Pemoeda. Melalui perjuangan yang tidak kenal lelah akhirnya kita dapat memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. 

"Sejak diproklamirkannya kemerdekaan, kita bangsa Indonesia telah berjanji dan berketetapan hati bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini adalah harga mati yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam kondisi dan keadaan apapun. NKRI adalah negara demokrasi berlandaskan ideologi Pancasila, yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan adat istiadat yang hidup di tengah masyarakat. Menjadi kewajiban seluruh komponen bangsa Indonesia secara konsisten untuk menjaga, melindungi dan memelihara tegaknya NKRI dari gangguan apapun, baik dari dalam maupun dari luar dengan cara menerapkan prinsip dan nilai-nilai nasionalime dalam kehidupan sehari-hari," tegas Torry.

Setelah sekian lama berdiri sebagai bangsa, ancaman dan tantangan akan keutuhan NKRI tidak selangkah pun surut. Bahkan melalui kemajuan teknologi digital, ancaman radikalisme dan terorisme, mendapatkan medium baru untuk penyebaran paham dan praktiknya. Selain itu, Indonesia juga menghadapi permasalahan ketahanan bangsa secara kultural. Munculnya kekerasan dan pornografi, terutama yang terjadi pada generasi yang masih sangat belia, adalah satu dari beberapa permasalahan kultural utama bangsa ini yang akhir-akhir ini mengemuka dan memprihatinkan. Lagi-lagi, medium baru teknologi digital berperan penting dalam penyebaran informasi, baik positif maupun negatif, secara cepat dan masif. 

"Ketika berbicara tentang lanskap dunia dalam konteks teknologi digital tersebut, kita juga menghadapi problem kaburnya batas-batas fisik antara domestik dan internasional. Potensi pergaulan dan kerja sama saling menguntungkan akibat relasi dengan dunia internasional tumbuh makin intens, tetapi juga sekaligus makin rentan terhadap penyusupan ancaman terhadap keutuhan NKRI dari luar wilayah negeri ini. Tentu kita tidak ingin kedodoran dalam menjaga NKRI akibat terlambat mengantisipasi kecepatan dan meluasnya anasir-anasir ancaman karena tidak tahu bagaimana bersikap dalam konteks dunia yang sedang berubah ini," jelas Torry.

"Kini bukan saatnya lagi mengedepankan hal-hal sekadar pengembangan wacana yang sifatnya seremonial dan tidak produktif. Kini saatnya bekerja nyata dan mandiri dengan cara-cara baru penuh inisiatif, bukan hanya mempertahankan dan membenarkan cara-cara lama sebagaimana yang telah dipraktikkan selama ini. Hanya karena telah menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan berarti sesuatu telah benar dan bermanfaat. Kita harus membiasakan yang benar dan bukan sekadar membenarkan yang biasa," kata Torry.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional diharapkan mampu memperbarui semangat Trisakti: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Jika konsisten, maka akan membawa bangsa Indonesia mengalami kebangkitan yang selanjutnya, yaitu menjadi bangsa yang lebih jaya dan kompetitif dalam kancah internasional. 

"Semoga dalam memperingati hari Kebangkitan Nasional Tahun 2016 ini, kinerja kita semakin baik dan semakin dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. Teriring salam, doa penuh harapan kiranya kita semua senantiasa diberikan kemampuan untuk mempertahankan NKRI ini sampai kapan pun, demi kejayaan bangsa Indonesia. Selamat Hari Kebangkitan Nasional ke-108. Indonesia tetap jaya!" tutup Torry.(*)