Badan Intelijen Negara
<< November 2018 >>
MinSenSelRabKamJumSab
    123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930 
  • foto

    Solidaritas Pertemuan IMF Bank Dunia untuk Bencana Alam di Indonesia

    Jakarta (9/10/2018)- Indonesia kembali mencuri perhatian dunia, untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah IMF World Bank Group Annual Meetings 2018 (IMF-WBG AM 2018) yang akan dilaksanakan mulai tanggal 8-14 Oktober 2018 di Kawasan Nusa Dua, Bali. Pertemuan IMF-WBG AM 2018 mempunyai nilai strategis dan dapat dijadikan momentum bagi Indonesia sebagai middle-income country mampu menunjukkan kemajuan ekonomi dan kepemimpinan serta komitmen dalam penanganan isu-isu global. Di tengah persiapan penyelenggaraan perhelatan akbar tersebut, telah diwarnai dengan tragedi bencana alam dan tsunami yang menimpa daerah di Indonesia, khususnya Lombok dan Palu. Bencana gempa dan tsunami juga menjadi perhatian bersama penyelenggara baik dari pemerintah pusat maupun dari perwakilan IMF. Bentuk kepedulian ditunjukkan melalui aksi solidaritas terhadap bencana gempa yang diberi nama ‘Solidarity for Lombok’ tepat satu hari sebelum perhelatan dimulai.

Kepala BIN : Ulama Berperan Menyatukan Elemen Masyarakat dan Tangkal Ancaman

Jakarta (17/7/2017)-Pemerintah telah melakukan langkah antisipatif dan upaya cegah dini dalam penanganan masalah kekerasan dan konflik sosial di masyarakat, melalui pendekatan secara keagamaan dan pelibatan tokoh agama. Ditengah merebaknya ancaman, ulama sebagai sosok yang diberikan hidayah oleh Allah dapat berperan menyatukan seluruh elemen masyarakat untuk menangkal ancaman yang masuk ke Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Badan Intelijen Negara, Jenderal Polisi Drs. Budi Gunawan, S.H.,M.Si., Ph.D,melalui rilis media, Jakarta, Sabtu, 15 Juli 2017. 
“Saat ini intelijen telah memasuki era 3.0 yakni intelijen yang mampu memadukan peran personil intelijen, teknologi dan jaringan masyarakat. Konsep intelijen 3.0 sangat dibutuhkan guna mendeteksi mengeliminir ancaman yang dihadapi di Indonesia, pungkas Jenderal Bintang Empat.”
Kepala Badan Intelijen Negara lebih lanjut mengatakan bahwa beberapa jenis ancaman yang masuk ke Indonesia antara lain: Pertama, ancaman black ops dengan cara mempengaruhi kelompok tertentu untuk menciptakan situasi inkondusif di pemerintahan. Kedua, ancaman psyco ops yakni berita hoax yang terus mempengaruhi opini masyarakat. Kemudian ada juga, ancaman kelompok teror dengan konsep jihad fardiyah (amaliyah perorangan) melalui kelompok ISIS yang ingin menciptakan khilafah islamiyah seperti zaman khilafah usmaniyah yang telah bergerak dari Timur Tengah ke wilayah Asia Pasifik. 
Ketiga, ancaman narkoba, Indonesia dijadikan target pasar narkoba oleh 27 kartel narkoba di dunia, Keempat, ancaman ideologi anti Pancasila. Kelima, ancaman ekonomi yang didominasi maraknya produk palsu khususnya produk Tiongkok dan juga ancaman mafia pangan dan energi serta praktik ekonomi tidak sehat di kalangan pelaku ekonomi, seperti isu masuknya tentara Tiongkok ke Indonesia. Keenam, ancaman cyber dan media war yang mengadu domba ulama dengan pemerintah. Ketujuh, ancaman pihak intelijen asing melalui serangan virus di komputer, dan terakhir ancaman Papua Barat dan Papua serta Gerakan Aceh Merdeka yang menunjukkan pergerakan yang signifikan. 
“Ulama perlu mempelajari dan ikut terlibat langsung dalam konsep inteljien 3.0 yakni intelijen yang mampu memadukan peran personil intelijen, teknologi dan jaringan masyarakat. Konsep intelijen 3.0 sangat dibutuhkan guna mendeteksi mengeliminir ancaman yang dihadapi di Indonesia”, himbau  Budi Gunawan.”
Kepala Badan Intelijen Negara juga mengharapkan agar ulama, umaro, umat Islam, TNI dan Polri yang merupakan kekuatan sekaligus kebanggaan Indonesia dan Negara, untuk terus dapat menjaga keutuhan bangsa dan menjadi contoh bagi kehidupan dan peradaban dunia yang damai. (*)