Badan Intelijen Negara
<< Oktober 2017 >>
MinSenSelRabKamJumSab
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031    
  • foto

    Indonesia Menjadi Tuan Rumah KTT IORA 2017

    Jakarta, (06/03/2017). Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Indian Ocean Rim Association (KTT IORA) yang digelar pada 5 hingga 7 Maret 2017 bertempat di Jakarta Convention Center (JCC).

Kepala BIN : Ulama Berperan Menyatukan Elemen Masyarakat dan Tangkal Ancaman

Jakarta (17/7/2017)-Pemerintah telah melakukan langkah antisipatif dan upaya cegah dini dalam penanganan masalah kekerasan dan konflik sosial di masyarakat, melalui pendekatan secara keagamaan dan pelibatan tokoh agama. Ditengah merebaknya ancaman, ulama sebagai sosok yang diberikan hidayah oleh Allah dapat berperan menyatukan seluruh elemen masyarakat untuk menangkal ancaman yang masuk ke Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Badan Intelijen Negara, Jenderal Polisi Drs. Budi Gunawan, S.H.,M.Si., Ph.D,melalui rilis media, Jakarta, Sabtu, 15 Juli 2017. 
“Saat ini intelijen telah memasuki era 3.0 yakni intelijen yang mampu memadukan peran personil intelijen, teknologi dan jaringan masyarakat. Konsep intelijen 3.0 sangat dibutuhkan guna mendeteksi mengeliminir ancaman yang dihadapi di Indonesia, pungkas Jenderal Bintang Empat.”
Kepala Badan Intelijen Negara lebih lanjut mengatakan bahwa beberapa jenis ancaman yang masuk ke Indonesia antara lain: Pertama, ancaman black ops dengan cara mempengaruhi kelompok tertentu untuk menciptakan situasi inkondusif di pemerintahan. Kedua, ancaman psyco ops yakni berita hoax yang terus mempengaruhi opini masyarakat. Kemudian ada juga, ancaman kelompok teror dengan konsep jihad fardiyah (amaliyah perorangan) melalui kelompok ISIS yang ingin menciptakan khilafah islamiyah seperti zaman khilafah usmaniyah yang telah bergerak dari Timur Tengah ke wilayah Asia Pasifik. 
Ketiga, ancaman narkoba, Indonesia dijadikan target pasar narkoba oleh 27 kartel narkoba di dunia, Keempat, ancaman ideologi anti Pancasila. Kelima, ancaman ekonomi yang didominasi maraknya produk palsu khususnya produk Tiongkok dan juga ancaman mafia pangan dan energi serta praktik ekonomi tidak sehat di kalangan pelaku ekonomi, seperti isu masuknya tentara Tiongkok ke Indonesia. Keenam, ancaman cyber dan media war yang mengadu domba ulama dengan pemerintah. Ketujuh, ancaman pihak intelijen asing melalui serangan virus di komputer, dan terakhir ancaman Papua Barat dan Papua serta Gerakan Aceh Merdeka yang menunjukkan pergerakan yang signifikan. 
“Ulama perlu mempelajari dan ikut terlibat langsung dalam konsep inteljien 3.0 yakni intelijen yang mampu memadukan peran personil intelijen, teknologi dan jaringan masyarakat. Konsep intelijen 3.0 sangat dibutuhkan guna mendeteksi mengeliminir ancaman yang dihadapi di Indonesia”, himbau  Budi Gunawan.”
Kepala Badan Intelijen Negara juga mengharapkan agar ulama, umaro, umat Islam, TNI dan Polri yang merupakan kekuatan sekaligus kebanggaan Indonesia dan Negara, untuk terus dapat menjaga keutuhan bangsa dan menjadi contoh bagi kehidupan dan peradaban dunia yang damai. (*)