Badan Intelijen Negara
<< Oktober 2018 >>
MinSenSelRabKamJumSab
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031   
  • foto

    Solidaritas Pertemuan IMF Bank Dunia untuk Bencana Alam di Indonesia

    Jakarta (9/10/2018)- Indonesia kembali mencuri perhatian dunia, untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah IMF World Bank Group Annual Meetings 2018 (IMF-WBG AM 2018) yang akan dilaksanakan mulai tanggal 8-14 Oktober 2018 di Kawasan Nusa Dua, Bali. Pertemuan IMF-WBG AM 2018 mempunyai nilai strategis dan dapat dijadikan momentum bagi Indonesia sebagai middle-income country mampu menunjukkan kemajuan ekonomi dan kepemimpinan serta komitmen dalam penanganan isu-isu global. Di tengah persiapan penyelenggaraan perhelatan akbar tersebut, telah diwarnai dengan tragedi bencana alam dan tsunami yang menimpa daerah di Indonesia, khususnya Lombok dan Palu. Bencana gempa dan tsunami juga menjadi perhatian bersama penyelenggara baik dari pemerintah pusat maupun dari perwakilan IMF. Bentuk kepedulian ditunjukkan melalui aksi solidaritas terhadap bencana gempa yang diberi nama ‘Solidarity for Lombok’ tepat satu hari sebelum perhelatan dimulai.

Kepala BIN: Pemahaman Teori Kolaborasi Intelijen Pendekatan Hermenetika-Refleksif dalam Penanganan Ancaman Siber

 

Jakarta (11/8/2018) -  Perkembangan ancaman siber sangat mengkhawatirkan dan seringkali tidak disadari bahwa sistem telah disusupi virus. Maka dari itu, ancaman siber perlu mendapat perhatian. Saat ini, penanganan ancaman siber cenderung lebih mengedepankan pendekatan teknologi. Hasil riset mengenai ancaman siber menunjukkan tren serangan meningkat dan kompleks, sehingga penanganan dari sisi teknologi saja belum cukup. Oleh karena itu, diperlukan penanganan dalam perspektif intelijen yang lebih komprehensif dengan pendekatan lebih ilmiah. Salah satunya adalah Teori Kolaborasi Intelijen Pendekatan Hermenetika-Refleksif. Pernyataan tersebut disampaikan, Kepala Badan Intelijen Negara, Jenderal Pol. (Purn) Dr. Budi Gunawan, S.H., M.Si., Ph.D, dalam pidato sambutan orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN)  dan dies natalis STIN ke-15 dan wisuda 117 sarjana angkatan ke-XI dan 39 mahasiswa pasca sarjana STIN tahun akademik 2017/2018, Selasa, 7 Agustus 2018, di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Turut hadir dalam acara tersebut Ketua DPR, Bambang Soesatyo, Sekretaris Kabinet, Pramono Anung, DR Amien Rais Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri, Wakil Kepala Kepolisian Indonesia, Komisaris Jenderal Polisi Syafruddin, Kepala BNN, Komisaris Jenderal Polisi Heru Winarno, Pengusaha, Hary Tanoesoedibjo, Direktur Utama Bulog, Komisaris Jendral (Purnawirawan) Budi Waseso, Ketua MUI, Ma’ruf Amin, Mantan Kepala Badan Intelijen Negara, Jenderal (Purnawirawan) AM Hendropiryono dan  Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara, Mayjen TNI (Purn) Rusdi . 

Lebih lanjut Budi Gunawan menjelaskan pengertian Teori Kolaborasi Intelijen Pendekatan Hermenetika-Refleksif adalah kejutan yang datang dari ancaman siber di dalam suatu sistem tata kelola yang belum memadai, hanya dapat diatasi secara optimal oleh interaksi empat faktor penentu kolaborasi penyelenggaran intelijen yaitu norma dominan, ambang batas ancaman, desain institusi dan aktor terdekat, sehingga membentuk kompetensi, komunikasi, kontrol dan konfigurasi sebagai dimensi kolaborasi dalam ikatan pragmatisme kemanfaatan atau kepentingan bersama, untuk menjamin terciptanya keamanan nasional dalam kondisi yang volatile, uncertain, complex dan ambiguity. 

“Situasi tersebut menginspirasi untuk menyusun sebuah teori tentang bagaimana intelijen berkolaborasi berdasarkan pendekatan hermenetika-refleksif. Di masa depan terdapat beberapa aspek penting yang akan mempengaruhi intelijen, seperti tren dan faktor pemicu ancaman siber, strategi yang semakin efektif untuk mengantisipasi ancaman, teori intelijen untuk menjelaskan fenomena ancaman dan merumuskan strategi penanggulangannya; serta ukuran efektivitas operasi intelijen siber”, terang Budi Gunawan.

Menurut Budi Gunawan, teori intelijen yang baik terdiri dari empat tingkat, yaitu  pertama, mendeskripsikan kegiatan, organisasi dan produk intelijen. Kedua, menjelaskan dan mengungkap faktor utama dalam strategi dan operasi intelijen. Ketiga, menjelaskan hubungan sebab-akibat antar faktor utama yang berpengaruh pada efektivitas kegiatan intelijen. Keempat, memiliki kemampuan prediksi masa depan serta langkah antisipasinya.

Selanjutnya, Budi Gunawan, menjelaskan fokus filsafat hermenetika adalah pada pemahaman intelijen melalui interpretasi pemaknaan baik asumsi, sikap, perilaku serta aktivitas, organisasi dan produk intelijen siber dalam lingkungan strategis yang dinamis. 

“Penggabungan kedua pendekatan menutup celah kekosongan penafsiran makna dan peran intelijen pada level strategis. Kombinasi tersebut merupakan kekuatan terori kolaborasi intelijen berbasis hermenetika-refleksif,” tandas Kepala BIN.

Kepala BIN menerangkan bahwa pendekatan hermenetika-refleksif harus berfokus pada kesatuan ekosistem dan tidak hanya sekedar pada produk, organisasi dan kegiatan, tetapi pada hasil upaya dan produk perorangan yang mampu memisahkan informasi yang berharga. 

“Tantangan terbesar intelijen di masa depan bukan kekurangan informasi, namun kekurangan waktu dan kemampuan memprediksi di tengah sifat informasi yang cepat berubah. Oleh karena itu, definisi intelijen diperbaharui melalui pendekatan hermenetik-refleksi agar mampu menjawab persoalan ontologis dan tatangan epistemologis juga tuntutan aksiologis intelijen negara, “imbuh Budi Gunawan.

Diakhir sambutan, Kepala BIN menegaskan penyelenggara intelijen tidak lagi dapat bertindak sendiri-sendiri, tetapi harus mengembangkan pola-pola baru dalam bekerjasama dan bersinergi.

“Dengan pengukuhan saya dapat memacu terus memberikan karya terbaik bagi masyarakat, bangsa dan negara yang dicintai bersama. Seluruh insan intelijen diharapkan untuk terus mengembangkan diri khususnya melalui jalur pendidikan, sehingga terwujud insan intelijen yang semakin profesional, handal dan tangguh, “ pesan Budi Gunawan. (*)