Badan Intelijen Negara
<< Oktober 2019 >>
MinSenSelRabKamJumSab
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
  • foto

    Pentingnya Pengelolaan Perbatasan Negara

    Mewujudkan Nawacita ke-3 yaitu Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan, menjadi salah satu program prioritas pasangan Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK). Upaya perwujudan ini dilakukan sebagai bentuk perhatian terhadap masyarakat yang ada di pelosok daerah, khususnya wilayah perbatasan negara, dalam hal pemenuhan rasa aman dan sejahtera.

Hikmah Idul Adha 1440 H Semangat Berqurban Menuju Persatuan dan Kesatuan Indonesia

Jakarta (11/8/2019)-  Sikap menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia adalah perintah agama, sebaliknya memecah belah umat adalah larangan dan penghinaan terhadap ajaran agama. Demikian isi khotbah yang disampaikan oleh Dewan Dakwah Nahdlatul Ulama, Dr. K.H. Samsul Ma'rif, M.A dalam peringatan Idul Adha 1440 H dengan tema " Memaknai Hikmah Idul Adha Kita Gelorakan Semangat Berqurban menuju Persatuan Kesatuan Republik Indonesia". Dalam kesempatan tersebut, turut hadir Kepala BIN,  Jenderal Pol. (Purn) Prof.Dr. Budi Gunawan, S.H., M.Si., Ph.D dan Wakil Kepala BIN, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Teddy Lhaksmana, didampingi seluruh pejabat Eselon I dan II, pegawai BIN bertempat di Masjid Jami’ Baitul Akbar, Kesatriaan Soekarno Hatta.
 
Diawal khotbahnya, Dr. K.H. Samsul Ma'rif, M.A menyampaikan mengenai awal mula peristiwa qurban berasal dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Ritualitas qurban dikisahkan Al quran pada surat Al Maidah ayat 27. Dari kisah yang dijumpai, para ahli tafsir menyatakan bahwa peristiwa qurban yang dilakukan dua bersaudara dari putra Adam AS, adalah merupakan solusi dari polemik perang dingin yang terjadi antara keduanya dalam mempersunting wanita cantik bernama Iklimah.

Lebih lanjut, Dr. K.H. Samsul Ma'rif, M.A  menjelaskan dalam ibadah haji dilarang berbuat fusuq, saling mencela, memftnah, berdebat yang mendatangkan permusuhan apalagi menyebar hoaks.

"Spirit ibadah haji harus dijadikan pelajaran dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, terutama dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan, jelas  Dr. K.H. Samsul Ma'rif, M.A."

Menurut, Dr. K.H. Samsul Ma'rif, M.A mengatakan Idul Adha juga lazim disebut dengan hari raya haji, karena selain mengenang kembali dan mengikuti sunah Nabi Ibrahim AS berupa qurban, saudara saudara Muslim kita yang memiliki istitha'ah yang datang dari seluruh penjuru dunia, sedang berkumpul di tanah suci Mekah Al Mukaromah untuk beribadah haji.

Mengakhiri khutbahnya, Dr. K.H. Samsul Ma'rif, M.A berpesan untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan antar umat manusia. Jemaah haji yang datang dari berbagai suku, ras, golongan, dan bahkan negara, semuanya saling menghargai satu dengan yang lain.(*)