Badan Intelijen Negara
<< Agustus 2017 >>
MinSenSelRabKamJumSab
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
  • foto

    Indonesia Menjadi Tuan Rumah KTT IORA 2017

    Jakarta, (06/03/2017). Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Indian Ocean Rim Association (KTT IORA) yang digelar pada 5 hingga 7 Maret 2017 bertempat di Jakarta Convention Center (JCC).

Intelijen Perlu Tingkatkan Kemitraan Dengan Rakyat

Jakarta (28/5/2013)- Peranan intelijen menjadi sangat vital dan integral apabila dikaitkan dengan pertahanan dan keamanan negara. Sebagai insan intelijen yang bertugas untuk menjaga kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), menjadi penting dan mendesak untuk manunggal dan meningkatkan kemitraan dengan rakyat. Demikian rangkuman wawancara dengan mantan Kepala Badan Koordinasi Intelijen (BAKIN) periode 1996-1998–yang sekarang berubah nama menjadi Badan Intelijen Negara (BIN)–Letnan Jenderal TNI (Purn) Moetojib di kompleks BIN, Jakarta, Rabu  (8/5/2013).

 

Berikut petikan wawancara dengan Mantan Kepala BAKIN, Moetojib :

 

1. Bagaimana perjalanan karir Anda, sehingga berhasil menduduki jabatan puncak sebagai Kepala BAKIN?

Pada mulanya saya tidak pernah bermimpi ataupun bercita-cita sebagai Kepala BAKIN. Kalau dirunut selama perjalanan karir saya tidak pernah menjabat dalam posisi yang berhubungan dengan intelijen maupun masuk komunitas intelijen. Saya tidak mengetahui secara pasti alasan Presiden Soeharto menunjuk saya menjadi Kepala BAKIN, padahal jabatan saya ketika itu sebagai Gubernur Lemhanas. Menurut Jenderal Edi Sudrajat dan Jenderal faisal Tanjung yang menjadi atasan saya, Presiden Soeharto mengatakan : “Intelijen itu ilmu yang bisa pelajari. Karena itu, sambil bekerja sambil belajar.” Pesan Preiden Soeharto terhadap saya,  “Sampaikan kepada saya apa yang kamu lihat sesungguhnya, jangan sampai terbalik”. Waktu itu saya   menjawab :  “Baik Pak saya akan lakukan itu.Kalau saya melihat kucing, saya bilang kucing, kalau saya melihat macan, saya bilang macan”.

 

2. Apa yang Anda pikirkan ketika pertama kali memimpin BAKIN?

Pada  awal masuk BAKIN, saya berpandangan seyogyanya orang intel harus dapat membuka mata dan kuping selebar-lebarnya, namun mulut tertutup rapat jangan banyak bicara. Dalam pikiran saya, makin banyak orang tidak mengenal intelijen semakin baik, karena intelijen berhadapan dengan sesuatu yang rahasia. Semakin kita tertutup, maka akan semakin selamat. Berbeda dengan jabatan saya sebelumnya, semua orang boleh mengenal karena public figure, seperti Panglima Kodam, Komandan Sesko ABRI, Gubernur Lemhanas. Kesemua jabatan tersebut dikenal publik. Satu prinsip yang saya pegang sampai hari ini, orang boleh mengenal diri saya sebagai Kepala BAKIN, tetapi yang lebih penting orang tidak boleh mengetahui isi dalam kepala saya tentang kegiatan yang saya lakukan.

 

3. Adakah pengalaman yang menarik dan impresif selama Anda menjabat sebagai Kepala BAKIN?

Banyak sekali pengalaman menarik selama saya menjabat sebagai Kepala BAKIN. Namun hal itu tidak dapat dibagikan, mengingat rahasia negara baru boleh disampaikan setelah 30 tahun dengan pertimbangan sudah tidak menimbulkan dampak apa-apa. Salah satu yang menarik, pada saat BAKIN diberi kesempatan sebagai tuan rumah penyelenggara pertemuan komunitas intelijen ASEAN yang dilaksanakan di dua tempat, yaitu Jakarta dan Bali. Salah satu hasil yang dicapai dalam pertemuan tersebut adalah kesepakatan mengenai permasalahan yang merugikan salah satu negara ASEAN, semua negara ASEAN harus membantu agar tidak berdampak terhadap negara lainnya. Hasil kesepakatan tersebut dilaporkan kepada Presiden Soeharto dengan mengajak para peserta negara ASEAN untuk menghadap Presiden.

 

4. Bagaimana Anda melihat bahwa intelijen sebagai bagian dari sistem pertahanan Negara?  

Intelijen sebagai bagian dari sistem pertahanan Negara, karena sistem pertahanan dan keamanan tidak bisa dilakukan tanpa intelijen. Pada dasarnya, dalam kehidupan semua harus mengetahui informasi lebih dahulu, seperti pernyataan Sun Tzu yang mengatakan, kalau kita sudah mengetahui 50% informasi, kemenangan sudah didapat. Berdasarkan pengalaman saya yang banyak di pasukan tempur dan komando teritorial, kedua wilayah tersebut merupakan ruang dan alat juang. Merujuk pada sistem pertahanan kita adalah sistem pertahanan rakyat semesta yang sesuai dengan budaya gotong royong. Penggunaan sistem pertahanan rakyat semesta harus dilakukan secara integral dan total. Sebagai petugas inteljen, harus bisa bergaul, mengayomi dan manunggal dengan rakyat. Inilah kekuatan sishankamrata yang sebenarnya. Aparat intelijen tidak bisa berbuat apa-apa tanpa menggandeng rakyat.  Aparat intelijen dapat menerapkan sistem hankamrata dengan baik dan efektif, bila menjalin kemitraan dengan rakyat. Oleh karena itu, aparat intelijen harus dapat merangkul erat komando teritorial. Komando teritorial terbukti sudah membina rakyat sebagai alat deteksi dini yang efektif.

 

5. Bagaimana Anda melihat permasalahan bangsa saat ini dan solusinya?

Saya melihat krisis demi krisis melanda bangsa ini, kemudian berubah menjadi metamorphosis krisis yang bermacam-macam, mulai dari krisis jati diri dan karakter. Permasalahan bangsa ini bersumber dari manusianya bukan karena kecerdasan dan kesehatan yang kurang, tetapi lebih pada karakter dan jati diri bangsa yang kurang. Solusi terhadap masalah bangsa, perlu dirumuskan 2 (dua) strategi konsep dasar. Pertama, rekonstruksi moral secara total dengan membangun karakter dan jati diri bangsa di berbagai lini, mulai dari lembaga pendidikan sampai pada tataran masyarakat. Kedua, konsolidasi kebangsaan untuk mengembalikan kepada nilai-nilai dasar Pancasila, atau dalam istilah lain membangun neo-nasionalisme dengan formulasi baru. Dalam perang kemerdekaan masa lalu, bambu runcing digunakan untuk melawan tank. Ini adalah merupakan simbol yang menunjukan  kekuatan nasionalisme saat itu. Neo-nasionalisme yang dimaksud adalah nasionalisme yang mengapresiasi kebhinekaan, persatuan dan kesatuan, sebagai anugerah Tuhan. Isinya termasuk mengatasi kemiskinan, kebodohan, dan mengatasi isme-isme lainnya sebagai musuh bersama yang bertentangan dengan Pancasila.

 

6. Bagaimana Anda melihat profesionalisme intelijen saat ini?

Saya menyambut baik dan mengapresiasi peningkatan fungsi intelijen maupun pemahaman mengenai intelijen, dengan didasarkan pada tantangan yang semakin bertambah canggih dan berat. Intelijen harus bisa mengikuti kemajuan tantangan dengan meningkatkan profesionalisme yang harus terus dikaji dan disesuaikan dengan konteks tantangan jaman. Profesionalisme intelijen yang dimaksud yaitu, intelijen yang lebih mengutamakan pendekatan soft power, bukan lagi hard power, termasuk didalamnya ialah bidang intelijen ekonomi, social dan budaya. Intelijen harus mempunyai perangkat itu. Secara lebih teknis lagi, sumber daya manusia (SDM) sangat mutlak untuk ditingkatkan. Hal ini untuk mempermudah dalam mendeteksi adanya tantangan. Tantangan yang terlihat sekarang ini adalah adanya usaha untuk mempengaruhi dan merubah peraturan serta perundang-undangan yang ada, kemudian diikuti dengan serbuan budaya ke negara setempat. Indonesia saat ini berada dalam posisi terdesak. Dalam bidang politik, hukum, ekonomi lebih banyak mengedepankan liberalisme daripada Demokrasi Pancasila.

 

7. Apa harapan Anda terhadap organisasi intelijen?

BIN harus terus menerus menyempurnakan organisasinya, termasuk meningkatkan kualitas anggotanya, yang disesuaikan dengan tantangan jaman. Perubahan persepsi seolah-olah intelijen jaman dulu hanya menghadapi perang hard power, namun sekarang perang yang dihadapi adalah perang dengan soft power. Perang ini meliputi perang di bidang ideologi, sosial, ekonomi dan lain sebagainya. Perang soft power membutuhkan pemikiran canggih dan harus dapat mempersiapkan diri, serta harus memiliki daya tahan. Kembali pada konsep sishamkamrata intelijen harus dapat mengambil hati rakyat. Aparat intelijen harus pandai dalam membuat dan membangun jaringan dan akses dengan rakyat, melalui pemanfaatan komando teritorial yang sudah tergelar. Aparat intelijen perlu terus mengefektifkan sistem hankamrata untuk disinergikan dengan fungsi intelijen.  (*)