Badan Intelijen Negara
<< November 2017 >>
MinSenSelRabKamJumSab
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
  • foto

    Indonesia Menjadi Tuan Rumah KTT IORA 2017

    Jakarta, (06/03/2017). Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Indian Ocean Rim Association (KTT IORA) yang digelar pada 5 hingga 7 Maret 2017 bertempat di Jakarta Convention Center (JCC).

Kepala BIN : Antisipasi Ancaman melalui Profesionalisme Institusi Intelijen

Jakarta (17/7/2013) - Kondisi geografis, kemajemukan sosial budaya, dan kekayaan alam melimpah yang dimiliki Indonesia merupakan modal besar bagi terwujudnya cita-cita dan tujuan nasional.  Potensi itu jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan kerawanan-kerawanan. Oleh karena itu,  perlu diantisipasi dengan baik agar tidak menjadi ancaman faktual. Untuk mengantisipasi ancaman tersebut diperlukan institusi intelijen negara yang profesional dan handal, salah satu sumber SDM-nya berasal dari Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN). Demikian penegasan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Letnan Jenderal TNI (Purn) Marciano Norman, saat memberikan kuliah perdana mahasiswa Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN), di Kampus STIN Sentul, Bogor, Rabu, 17 Juli 2013.

Kepala BIN menjelaskan bahwa upaya membela dan mempertahankan kepentingan nasional tidak akan semakin mudah. Setidaknya ada beberapa permasalahan strategis global yang apabila gagal diantisipasi dapat menimbulkan ancaman bagi kepentingan nasional ke depan. Beberapa permasalahan tersebut, antara lain, masih berlanjutnya aksi teror di berbagai kawasan, khususnya kawasan Timur Tengah. Sementara di dalam negeri, perlu dicermati ancaman strategis nasional terutama terkait situasi politik dan keamanan menjelang Pemilu 2014.

“Kecenderungan ancaman ini jika tidak dikelola dengan cepat dan tepat berpotensi menimbulkan kerawanan politik yang dapat mengarah pada instabilitas politik dan keamanan. Proses penyelenggaraan politik 2014 harus kita kawal agar berjalan secara demokratis, aman, dan lancar sesuai tahapan-tahapan yang telah ditetapkan”, tegas Marciano.

“Mengingat spektrum dan bentuk ancaman yang dihadapi saat ini dan masa mendatang semakin luas, kompleks, dan beragam, serta warna dan wajah ancaman berubah menjadi multi nasional, maka upaya menjamin terselenggaranya pengamanan terhadap sasaran-sasaran strategis pembangunan bukan pekerjaan yang mudah. Keberhasilan kinerja intelijen saat ini dan ke depan banyak ditentukan oleh kompetensi dan profesionalitas intelijen dalam melakukan kegiatan penyelidikan, pengamanan, penggalangan, dan analisis”, tambah Marciano.

Lebih lanjut Kepala BIN mengatakan bahwa dalam situasi transisi saat ini, telah terbit Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara yang sarat dengan idealisme dan ketentuan-ketentuan praktis dalam menggelar fungsi intelijen dapat dinilai sebagai salah satu sejarah penting dalam perjalanan intelijen di Indonesia. Berbagai aturan mengikat yang digariskan dalam UU Intelijen merupakan perpaduan dari dua kepentingan mendasar, yaitu penyelenggaraan intelijen positif yang senafas dengan prinsip-prinsip demokrasi dan HAM serta kebutuhan untuk melaksanakan tugas dan fungsi intelijen secara efektif bagi Indonesia.

Menurut Kepala BIN, para mahasiswa STIN perlu memahami dan menguasai beberapa ilmu pengetahuan dasar, seperti sosiologi, hukum, antropologi, ekonomi, dan hubungan internasional. Selain itu pengetahuan tentang bahasa asing dan pengoperasian sarana komunikasi serta informasi khususnya komputer dan peralatan intelijen.

Dalam kesempatan ini, Kepala BIN menegaskan beberapa hal yang harus dijadikan pedoman bagi mahasiswa STIN, yaitu melaksanakan kegiatan pembelajaran untuk mencapai prestasi terbaik, manfaatkan segala fasilitas yang tersedia di kampus secara maksimal, kembangkan potensi diri, bakat, minat, dan kreatifitas secara optimal, berusahalah dengan keras dalam membangun ketahanan moral dan karakter individu sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, bangun solidaritas dan kesetiakawanan yang tulus sebagai wujud rasa kebangsaan. (*)