Badan Intelijen Negara
<< Agustus 2018 >>
MinSenSelRabKamJumSab
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
  • foto

    Silas Papare, Tokoh Pejuang dari Timur Indonesia

    Jakarta (20/7/2018)- Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawanya, demikian kata-kata bijak yang sering kita dengar terutama saat kita teringat akan tokoh-tokoh pejuang bangsa kita. Saat itulah terlintas dalam pikiran kita nama-nama besar pahlawan nasional, seperti Pangeran Diponegoro, Jenderal Soedirman, Raden Ajeng Kartini, Cut Nyak Dien, dan lain sebagainya. Disamping nama-nama besar diatas, masih banyak tokoh pejuang yang jarang kita dengar namanya, seperti Silas Papare, seorang tokoh pejuang dari timur Indonesia yang berjasa menyatukan Irian Jaya (Papua) ke dalam wilayah Indonesia. Silas Papare adalah keturunan asli Papua yang lahir di Serui tahun 1918. Silas Papare mengenyam pendidikan sekolah zending dan pendidikan juru rawat. Silas papare bekerja di rumah sakit di Serui selama 3 tahun, kemudian bekerja pada perusahaan minyak di Sorong sampai Jepang masuk pada awal 1942. Setelah itu Silas kembali ke Serui dan menjadi petani. Pada tahun 1944 Silas Papare direkrut oleh Amerika untuk menjadi mata-mata membantu Amerika mengusir Jepang dari Irian. Pasca Jepang kalah pada Perang dunia ke-2, Belanda kembali mendirikan pemerintahan kolonialnya di Irian. Karena tidak menyukai Belanda, Silas kembali lagi ke Serui dan bekerja di rumah sakit. Pada Desember 1945, Silas bersama teman-temannya berusaha mempengaruhi pemuda-pemuda Irian Barat yang tergabung dalam Batalyon Papua untuk melancarkan pemberontakan. Rencana tersebut gagal karena bocornya informasi. Ia kemudian ditangkap dan dipenjarakan di Jayapura. Saat menjalani masa tahanan di Jayapura, Silas Papare berkenalan dengan Dr. Sam Ratulangi, Gubernur sulawesi yang diasingkan oleh Belanda di tempat tersebut. Perkenalannya dengan Sam Ratulangi membuatnya semakin yakin bahwa Papua harus bebas dan bergabung dengan Negara kesatuan Republik Indonesia. Dengan keyakinanya tersebut akhirnya pada November 1946 Silas Papare mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). PKII berperan penting dalam menumbuhkan dan membesarkan benih nasionalisme keindonesiaan di Tanah Papua (Irian). Di bawah ancaman penjajah Belanda, aktivitas PKII dinyatakan ilegal. Namun Papare dan kawan-kawannya terus berjuang di bawah tanah. Dalam tekanan Belanda yang ketat itu anggota PKII terus bertambah. Pada tahun 1949 PKII tercatat memiliki anggota 4000 orang. Keberanian Silas Papare dalam mendirikan PKII membuatnya kembali ditangkap oleh Belanda dan dipenjarakan di Biak. Namun kemudian ia berhasil melarikan diri menuju Yogyakarta.

Kepala BIN : Perempuan Merupakan Mitra Kerja Suami

Jakarta (18/12/2013) - Perempuan adalah mitra kerja suami masing-masing. Tantangan tugas bapak-bapak/para suami yang semakin berat dan kompleks hanya dapat tertangani dengan upaya pembaruan terus menerus di segala bidang. Intelijen adalah profesi yang senantiasa membutuhkan tumbuhnya pemikiran-pemikiran kreatif dan inovatif.

Terkait dengan itu, kesabaran, kerelaan, dan dukungan tulus dari para ibu yang terus diberikan demi terpeliharanya suasana kerja yang kondusif di lembaga tercinta ini sangat dibutuhkan. Demikian sambutan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman, dalam peringatan Hari Ulang Tahun Dharma Wanita Persatuan (DWP), yang dibacakan oleh Wakil Kepala BIN Maroef Sjamsoeddin, di Komplek Kasatrian Soekarno-Hatta, Jakarta, Selasa, 17 Desember 2013.

Peringatan Hari Ulang Tahun DWP ke-14 juga dihadiri para pejabat Eselon I BIN, Ny. Syamsir Siregar, Ny. Asad Said Ali, pengurus Yayasan Arimbi, serta pengurus dan seluruh anggota DWP BIN.

Lebih lanjut Wakil Kepala BIN Maroef Sjamsoeddin menjelaskan bahwa dalam gerak pengabdiannya ke depan, ada tiga hal yang perlu terus digarisbawahi oleh DWP BIN, antara lain DWP BIN dapat meningkatkan perannya yang lebih konstruktif pada anggota dan keluarga besarnya sendiri. DWP BIN dapat berkontribusi dalam melindungi, memberdayakan, dan memajukan kaum perempuan, di lingkungan sekitar sendiri. DWP BIN betul-betul dapat berpartisipasi dan berkontribusi dalam pembangunan negara secara menyeluruh.

"Dharma Wanita, khususnya ibu-ibu memiliki peran sangat besar dalam hal kesehatan, dan ini harus diakui oleh kaum pria. Mulai dari kondisi prenatal, melahirkan, merawat, menjaga, dan membesarkan anak sebagai aset sumber daya manusia, merupakan suatu peran yang sangat mulia dari seorang ibu. Menjadi seorang ibu yang menyiapkan sumber daya manusia atau anak bangsa tidak boleh dianggap sebagai suatu hal yang remeh,” lanjut Maroef.

Wakil Kepala BIN berpesan kepada seluruh anggota DWP BIN agar bersama-sama menyongsong tahun 2014 dengan penuh optimis melalui peningkatan segenap potensi serta memelihara kekompakan, kebersamaan dalam hubungan harmonis dengan menunjukkan keteladaan dan kesederhanaan dalam keseharian.

Sementara itu, Ketua DWP BIN Triyana Maroef Sjamsoeddin, dalam membacakan sambutan Ketua Umum DWP Pusat, Nila F. Moeloek, berharap agar DWP dapat menjadi ujung tombak untuk mengimplementasikan program pemerintah di masyarakat.

 "DWP telah menunjukkan keberhasilan dan kejujuran dengan bekerja tanpa pamrih. DWP Pusat juga telah membuat MoU dengan berbagai instansi pemerintah dan swasta terkait dengan program yang dapat dilaksanakan, salah satunya bekerja sama dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam bidang pendidikan melalui program pendidikan formal,” ungkap Ketua DWP BIN. (*)