Badan Intelijen Negara

Silas Papare, Tokoh Pejuang dari Timur Indonesia

Jakarta (20/7/2018)- Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawanya, demikian kata-kata bijak yang sering kita dengar  terutama saat kita teringat akan tokoh-tokoh pejuang bangsa kita. Saat itulah terlintas dalam pikiran kita nama-nama besar pahlawan nasional, seperti Pangeran Diponegoro, Jenderal Soedirman, Raden Ajeng  Kartini, Cut Nyak Dien, dan lain sebagainya. Disamping nama-nama besar diatas, masih banyak tokoh pejuang  yang  jarang kita dengar namanya, seperti Silas Papare, seorang tokoh pejuang dari timur Indonesia yang  berjasa menyatukan Irian Jaya (Papua) ke dalam wilayah Indonesia.
Silas Papare adalah keturunan asli Papua  yang lahir di Serui tahun 1918. Silas Papare mengenyam pendidikan sekolah zending dan pendidikan juru rawat. Silas papare bekerja di rumah sakit di Serui selama 3 tahun, kemudian bekerja pada perusahaan minyak di Sorong sampai Jepang masuk pada awal 1942. Setelah itu Silas kembali ke Serui dan menjadi petani. Pada tahun 1944 Silas Papare direkrut oleh Amerika untuk menjadi mata-mata  membantu Amerika mengusir Jepang dari Irian. Pasca Jepang kalah pada  Perang dunia ke-2, Belanda kembali mendirikan pemerintahan kolonialnya di Irian. Karena tidak menyukai Belanda, Silas kembali lagi ke Serui dan bekerja di rumah sakit.

Pada Desember 1945, Silas bersama teman-temannya berusaha mempengaruhi pemuda-pemuda Irian Barat yang tergabung dalam Batalyon Papua untuk melancarkan pemberontakan. Rencana tersebut gagal karena bocornya informasi. Ia kemudian ditangkap dan dipenjarakan di Jayapura. Saat menjalani masa tahanan di Jayapura, Silas Papare berkenalan dengan Dr. Sam Ratulangi, Gubernur sulawesi yang diasingkan oleh Belanda di tempat tersebut. Perkenalannya dengan Sam Ratulangi membuatnya semakin yakin bahwa Papua harus bebas dan bergabung dengan Negara kesatuan Republik Indonesia. Dengan keyakinanya tersebut akhirnya pada November 1946 Silas Papare mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). 

PKII  berperan penting dalam menumbuhkan dan membesarkan benih nasionalisme keindonesiaan di Tanah Papua (Irian). Di bawah ancaman penjajah Belanda, aktivitas PKII dinyatakan ilegal. Namun Papare dan kawan-kawannya terus berjuang di bawah tanah. Dalam tekanan Belanda yang ketat itu anggota PKII terus bertambah. Pada tahun 1949 PKII tercatat memiliki anggota 4000 orang. Keberanian Silas Papare dalam mendirikan PKII membuatnya kembali ditangkap oleh Belanda dan dipenjarakan di Biak. Namun kemudian ia berhasil melarikan diri menuju Yogyakarta.

Pada Oktober 1949 di Yogyakarta, Papare mendirikan Badan Perjuangan Irian dalam rangka membantu pemerintah Republik Indonesia untuk memasukkan wilayah Irian Barat ke dalam wilayah NKRI. Pada tahun 1951 Silas Papare membentuk Kompi Irian 17 di Markas Besar Angkatan Darat untuk mendukung politik Pemerintah di forum Internasional dalam usaha pengembalian Irian Barat ke pangkuan Republik Indonesia. Konfrontasi yang berlarut-larut antara Indonesia dan Belanda mengenai Irian Barat mendorong Papare terus aktif dalam perjuangan membebaskan tanah kelahirannya dari penjajah Belanda. Papare kemudian aktif dalam Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FNPIB). Dengan dibawanya masalah Irian ke PBB, Pemerintah Sukarno lalu membentuk Biro Irian yang diresmikan pada bulan Agustus 1954. 

Pada 15 Agustus 1962 Papare diminta Presiden Sukarno menjadi salah seorang anggota delegasi Indonesia dalam New York Agreement tentang Irian Barat, yang mengakhiri konfrontasi Indonesia dengan Belanda mengenai Irian Barat. Pada 1 Mei 1963, Irian Barat pun resmi menjadi wilayah Republik Indonesia. Sesuai dengan isi persetujuan New York, nama Irian Barat diganti menjadi Irian Jaya. Papare kemudian diangkat menjadi angota Majelis Pemusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) mewakili Irian Barat. Bergabungnya Irian Jaya dipertegas oleh Hasil Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969 yang dimenangkan oleh pihak yang pro Republik Indonesia. Kemenangan tersebut sesuai dengan cita-cita perjuangan Papare dalam mewujudkan keinginan sebagian besar rakyat Irian untuk bergabung dengan Republik Indonesia.

Pada tahun 1970an Silas Papare kembali ke tanah kelahirannya di Serui. Papare meninggal di pulau kelahirannya pada 7 Maret 1978 dalam usia 60 tahun. Namanya diabadikan menjadi salah satu korvet Angkatan Laut  Republik Indonesia (ALRI) dengan nomor lambung 386. Selain itu, di pelabuhan laut Serui, didirikan pula Monumen Silas Papare. Sementara di Jayapura, namanya diabadikan sebagai nama sebuah perguruan tinggi yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Politik (STISIPOL) Silas Papare. Oleh Pemerintah Indonesia Silas Papare dianugerahi gelar pahlawan Nasional, pada tanggal 14 September 1993 dengan dikeluarkannya Keppres No. 77/TK/1993 (*/ disarikan dari pelbagai sumber)