Badan Intelijen Negara
Wawasan
  • foto

    Malahayati, Admiral Perempuan Pertama di Dunia

    Jakarta, (17/9/2014)- Emansipasi sejak jaman penjajahan memang masih belum dikenal, tetapi sejarah telah menorehkan lain, ternyata angin emansipasi lambat laun berhembus menuju Bumi Nusantara. Kehebatan kaum perempuan Melayu-Nusantara telah menginspirasi perubahan peran kaum perempuan di seluruh dunia, terbukti torehan nama kapal perang KRI Malahayati yang diambil dari seorang pejuang perempuan dari Aceh sebagai admiral perempuan pertama di dunia. Beliau juga tercatat dalam sejarah sukses menghalau Portugis dan Belanda masuk ke Aceh, sesuai catatan seorang wanita Belanda, Marie Van Zuchtelen, dalam bukunya berjudul “Vrouwlijke Admiral Malahayati” (Malahayati- Sang Admiral Wanita).
  • foto

    Intelijen harus Beradaptasi dengan Keterbukaan dan Profesional

    Jakarta (25/08/2014)- Kondisi intelijen saat ini dengan intelijen di masa lalu sudah sangat berbeda. Perbedaannya adalah bentuk ancaman dilihat dari sudut pandang berbeda. Intelijen yang hebat untuk membuktikannya tergantung pada waktu, ancaman dan kepentingan negaranya. Demikian juga Badan Intelijen Negara (BIN) yang sudah berubah dari waktu kewaktu, terutama paska reformasi intelijen harus menjadi terbuka dan profesional sesuai tuntutan Undang-Undang.
  • foto

    Jelang Lebaran Pasokan dan Harga Kebutuhan Pokok Normal

    Jakarta (24/7/2014)- Jelang perayaan lebaran tahun 2014 ini, berdasarkan data Departemen Perdagangan dan pantauan langsung di sejumlah pasar induk di wilayah Jakarta dan daerah lainnya, harga komoditas sembako seperti beras, gula, daging,telur, cabe merah dan keriting, serta bawang merah dan putih cenderung stabil atau tidak mengalami kenaikan harga yang berarti. Selain itu, jumlah pasokan sembako pun dapat dikatakan aman untuk jangka waktu beberapa hari mendatang terutama pada H jelang peringatan Idul Fitri.
  • foto

    Memaknai Profesi Intelijen

    Jakarta (18/07/2014)- Intelijen di Indonesia belum sepenuhnya mendapatkan posisi yang tepat, baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Belum tepatnya posisi intelijen dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, disebabkan oleh beberapa hal, Pertama, pemahaman dan pemaknaan masyarakat tentang intelijen masih kurang, termasuk para elit maupun kalangan akademisi sekalipun. Kedua berbagai pengalaman empiris di masyarakat tentang intelijen masa lalu, masih membawa efek trauma berkepanjangan, akibatnya persepsi masyarakat terhadap dunia intelijen bervariasi.
  • foto

    Menyongsong 2014-2019 : Memperkuat Indonesia Dalam Dunia Yang Berubah

    Buku ini bermula dari gagasan dan, sekaligus, prakarsa dari Kepala Badan Intelijen Negara Republik Indonesia (BIN), Letnan Jenderal TNI (Purn) Marciano Norman, yang memandang perlu dibuatnya sebuah kajian forecasting atau prakiraan ke depan kondisi bangsa dan NKRI terkait permasalahan strategis yang diperkirakan terjadi dalam kurun waktu lima tahun ke depan (2014-2019), serta bagaimana langkah-langkah antisipasi dan pemecahannya.
  • foto

    Paradigma Baru Ancaman Intelijen Masa Kini

    Jakarta (19/11/2013) – Perkembangan dinamika dan lingkungan strategis mengakibatkan perubahan paradigma, sehingga spektrum ancaman bergeser dari ancaman bersifat non fisik berubah menjadi perang masa depan bersifat cyber war. Atas dasar itulah intelijen Indonesia harus menyesuaikan dengan bentuk dan sifat ancaman perang tersebut.
  • Merunut Kembali Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia

    Merunut Kembali Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia Oleh: Prof Dr Dra MG Endang Sumiarni SH, Mhum* Jakarta (22/04/2013)- Kurun sebelum ‘kemerdekaan’ Indonesia (sebelum 17 Agustus 1945) belum ada Negara Kesatuan Republik Indonesia -- kawasan itu lazim disebut wilayah Nusantara. Batas-batas wilayah Nusantara itu tidak sama dengan batas-batas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.